Incar Kursi Ketum Golkar, Anak
Incar Kursi Ketum Golkar, Anak Soeharto Merasa Dirinya Paling Pantas

Rabu, 06 Desember 2017 - 16:54:03 WIB


Wartariau
JAKARTA - Sejak wacana Munaslub bergulir, sejumlah politikus Golkar berebut kursi Ketum Golkar yang saat ini masih dijabat Setya Novanto. Wakil Ketua Dewan Pakar Golkar Siti Hediati Hariyadi atau yang akrab disapa Titiek Soeharto pun ikut mengincar kursi tersebut. Pertanyaannya, memang anak Soeharto masih laku dijual?

Titiek mengaku prihatin dengan kondisi Golkar yang semakin terpuruk akibat diterpa banyak kasus korupsi sehingga membuat elektabilitasnya terus turun.

Ia pun ingin mengembalikan kejayaan Golkar seperti di zaman Bapaknya, Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun. "Jadi saya tergerak untuk mungkin bisa membawa Golkar menjadi lebih baik lagi," kata Titiek, di kompleks DPR, Jakarta, kemarin. Anak keempat Presiden Soeharto ini pun tak takut masyarakat menyebut Golkar kembali menjadi kaki tangan keluarga Cendana dan kelompok sisa-sisa Orba. "Ya terserah yang mau nilai bagaimana, emang nyatanya orang-orang enakan zaman Orde Baru kan," kata Titiek.

Atas dasar itulah, Titiek menyatakan keinginannya untuk menjadi Ketua Umum Golkar menggantikan Setya Novanto. "Insya Allah saya siap (jadi ketua umum Golkar)," kata Titiek.

Selain Titiek, yang telah menyatakan kesiapan maju sebagai ketua umum Golkar adalah Ketua Bidang Perekonomian Golkar sekaligus Menteri Perindustian Airlangga Hartarto. Airlangga mengklaim telah mendapatkan suara dari 31 DPD I Golkar.

Mengenai hal itu, Titiek mengaku tak menganggap Airlangga sebagai lawan yang berat. Sebab, menurutnya, di Golkar tidak ada istilah lawan. "Di Indonesia ini things can happens, sesuatu bisa saja terjadi, pada last minutes," kata Titiek.

Pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio mengatakan, langkah konkret untuk menyelamatkan Golkar saat ini adalah dengan mengadakan munaslub. Golkar membutuhkan sosok pemimpin yang kuat untuk menghadapi Pilkada 2018. Golkar juga butuh perbaikan citra untuk menjaga kepercayaan dari berbagai pihak, terutama Presiden Jokowi. Pasalnya, jika kepercayaan Jokowi kepada Golkar luntur, ia menyebut posisi Golkar di dalam pemerintahan bakal terancam.

"Selain sebagai presiden saat ini, Jokowi kandidat terkuat capres 2019. Bila luntur kepercayaan Jokowi, Golkar bisa ditendang dari kabinet dan terancam berada di luar kekuasaan. Sesuatu cobaan yang amat sulit bagi Golkar," kata Hendri, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Siapa calon pengganti Novanto? Menurut Hendri ada sejumlah nama yang dirasa cocok untuk mengisi posisi ketua umum menggantikan Novanto. Nama yang disebutnya, antara lain Airlangga Hartarto, Ade Komarudin dan Aziz Syamsuddin. Untuk calon alternatif, Hendri menyebutkan tiga nama, yaitu Titiek Soeharto, Indra Bambang Utoyo, dan Priyo Budi Santoso.

Bagaimana peluang Titiek? Dia bilang, soal Titiek punya peluang yang sama. "Hanya saja Titiek harus kerja cepat untuk segera mendapatkan dukungan dari DPD-DPD, sebab kalau terlambat sulit menumbangkan dominasi calon yang telah direstui Jokowi," ujarnya.

Di masa Orba, Golkar memang jaya. Golkar adalah partainya Soeharto, partai pendukung utama pemerintah. Namun, pamor Golkar meredup setelah Soeharto lengser pada 1997. Setelah itu, Golkar terpecah menjadi partai baru seperti Gerindra, PKPI, Nasdem, Hanura dan lain-lain.

Di bawah kepeimpinan Akbar Tanjung yang "memisahkan" Golkar dengan sosok Soeharto, Beringin kembali tegak. Di Pileg 2004, Golkar sudah kembali memiliki pengaruh yang besar dalam perpolitikan di Indonesia. Hanya saja, Keluarga Cendana, tak lagi mendapatkan tempat istimewa di Beringin seperti di masa Soeharto.

Sejumlah partai pernah mengusung keluarga Cendana untuk menjadi calon presiden salah satunya Partai Karya Peduli Bangsa PKPB yang didirikan pada September 2002.

Namun pada pemilu 2004, partai ini hanya memperoleh suara 2,11 persen. Pada 2012, tiga parpol yang berkaitan dengan Keluarga Cendana, yaitu Partai Nasional Republik (Tommy Soeharto), Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut, dan Partai Karya Republik yang dibina oleh cucu Soeharto, Ari Sigit, gagal lolos verifikasi administrasi KPU. [HARIAN RAKYAT MERDEKA]



Berita Terkait :