Pencemaran Limbah Sagu
Pencemaran Limbah Sagu di Meranti Memprihatinkan

Selasa, 13 Maret 2018 - 21:01:45 WIB


Wartariau.com SELATPANJANG - Kabupaten Kepulauan Meranti, selama ini dikenal sebagai kota sagu. Selain sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani sagu, industri pengolahan sagu juga tumbuh subur di daerah ini.

Sementara itu, dari data yang dihimpun dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kepulauan Meranti baru-baru ini, jumlah industri sagu telah mencapai lebih dari 95 Kilang Sagu. Dan ini diiringi juga dengan peningkatan limbah dari industri menghasilkan produsen tepung sagu ini.

Dari Pantauan media ini di salah satu kilang sagu di Desa Sonde, Kecamatan Rangsang Pesisir, beberapa waktu lalu, air limbah sisa pengolahan (repuh), langsung dialirkan ke sungai. Padahal pengelola kilang sagu (industri pengolahan sagu red) jelas-jelas mengetahui jika limbah tersebut akan mengalir ke laut.

Adalah AK, pengelola kilang sagu di Meranti ini mengungkapkan bahwa pihaknya terpaksa membuang limbah sagu tersebut ke sungai. Selain tidak memiliki bak penampungan yang mencukupi, selama ini, kegiatan membuang limbah ke sungai tidak pernah dipermasalahkan oleh instansi pemerintah. Dan Bahkan ini telah berlangsung lama, semenjak masih menjadi wilayah Kabupaten Bengkalis.

"Setahu saya ada 90-an kilang sagu di Meranti, sebagian besar membuang limbahnya ke sungai atau ke laut. Tapi hingga saat ini tidak ada dipermasalahkan," ungkap AK.

AK tidak menampik, jika limbah yang dibuang langsung ke sungai akan berakibat rusaknya ekosistem air dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Namun ia juga mengaku kewalahan jika ia harus membangun penampungan untuk limbah-limbah tersebut.

"Jujur saja, kami tidak sanggup untuk menampung limbah sebanyak ini. Dalam sehari saja kami bisa mengolah hampir seribu tual sagu. Memang banyak masyarakat yang datang untuk mengambil repu (ampas sagu) untuk pakan ternak. Namun limbah yang kami produksi sangat banyak, sementara repu yang diambil para peternak tidak sebanyak yang kami hasilkan," bebernyanya.

Aktifitas pembuangan limbah sagu ke sungai ini tidak lepas dari lemahnya pengawasan BLH Kabupaten Kepulauan Meranti. Dari 90-an industri pengolahan sagu yang ada, limbah yang dihasilkan bisa mencapai puluhan ribu meter kubik per hari dan sebagian besar berasal dari industri menengah.

Bahkan, sebagian industri kecil juga membuang limbah ke sungai tanpa ada pengolahan terlebih dahulu. Perbuatan tersebut jelas membuat air sungai menjadi kotor dan tercemar.

Sementara BLH Kepulauan Meranti hingga saat ini hanya sebatas melakukan sosialisasi Industri pengolahan air limbah (IPAL) tanpa ada tindakan tegas.

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kepulauan Meranti, Hendra Putra, S.Ip, mengaku telah melakukan sosialisasi penanggulangan pencemaran limbah industri kecil non limbah B3.

Dalam sosialisasi tersebut BLH mengundang sejumlah pemilik kilang sagu yang belum memiliki IPAL (Industri Pengolahan Air Limbah) pada April tahun lalu. "Kita sudah sampaikan ke pengusaha  agar mereka mengelelola limbah dengan baik. Seperti sistem pengelolaan limbah ini terpadu," katanya.

Hendra Putra mengungkapkan, seharusnya setiap kilang wajib memiliki IPAL. Sehingga, limbah yang dihasilkan dari kilang tidak langsung dialirkan ke laut karena bisa mengganggu keberadaan biota laut. {zamri]



Berita Terkait :