Periksa 8 Saksi,
Periksa 8 Saksi, Polisi Belum Tetapkan Tersangka Karhutla di Meranti

Selasa, 13 Maret 2018 - 22:01:25 WIB


Wartariau.com SELATPANJANG - Hingga saat ini, Kepolisian Resort (Polres) Kepulauan Meranti belum bisa menetapkan tersangka atas kasus Karhutla di Desa Lukun, Kecamatan Tebingtinggi Timur yang terjadi pada 8 Februari 2018 lalu.

Pihak kepolisian belum mempunyai alat bukti yang cukup untuk menetapkan tersangka. Untuk lokasi kebakaran saat ini sedang dalam proses penyelidikan dan di pasang garis polisi.

Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP La Ode Proyek melalui Kasat Reskrim Polres Kepulauan Meranti, AKP Rusyandi Zuhri Siregar mengatakan sejauh ini pihaknya baru memiliki satu alat bukti. Sedangkan untuk menetapkan tersangka, minimal polisi harus memiliki dua alat bukti.

"Alat bukti yang kami miliki berupa keterangan para saksi. Saat ini kami sedang melakukan upaya lain untuk menetapkan tersangkanya, apakah ini disengaja atau tidak. Ada 8 saksi yang sudah kita lakukan pemeriksaan, dimana ada 2 orang pemilik lahan, ada 1 saksi yang perlu kita lakukan pemeriksaan namun dia tidak hadir," ujar AKP Rusyandi Zuhri Siregar, Selasa (13/3/2018).

Mantan Kapolsek Tambang Polres Kampar ini mengakui penyelidikan kasus Karhutla bukanlah perkara mudah karena butuh alat bukti yang cukup dan kuat untuk menetapkan tersangkanya.

Untuk mendalami kasus tersebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan BMKG Pekanbaru untuk mengetahui lokasi asal api.

Selanjutnya, pihaknya juga akan  berencana menggandeng saksi ahli lainnya.

"Saksi ahli bisa saja dari KLHK atau juga dari pihak Laboratorium Forensik Polda Medan," ujar Andi.

Sebelumnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Meranti telah mendapatkan data real luas Karhutla di Desa Lukun, Kecamatan Tebingtinggi Timur, namun pihak BPBD masih enggan mengungkapkan ke publik.

Menurut Kepala BPBD Kepulauan Meranti, M Edy Afrizal, hasil pengukuran luas lahan di Desa Lukun tersebut sengaja masih dirahasiakan lantaran kasus Karhutla tersebut masih diselidiki oleh pihak kepolisian.

"Pihak Res Krim Polres Kepulauan Meranti meminta kita untuk tidak mengungkapkan ke publik dulu, karena masih proses penyelidikan. Kita dukung penuh dulu upaya pihak kepolisian untuk mengusut kasus ini," ujar Edy Afrizal.

Namun, ia berjanji akan segera mengungkapkan ke publik setelah ada pemberitahuan dari pihak kepolisian.

Edy hanya mengungkapkan, luas lahan yang terbakar pada 8 Februari lalu tidak seluas yang diungkapkan oleh peneliti BRG di media beberapa waktu lalu.

"Memang ada penambahan luas yang awalnya hanya 211,5 hektare di lokasi itu. Namun, tidak sampai seribuan hektare yang seperti diungkapkan oleh pihak peneliti BRG," ujar Edy Afrizal.


Berita Terkait :