Wapres Disebabkan Hal Ini...
Rupiah Tembus Rp 15.200 per Dollar AS, Kata Wapres Disebabkan Hal Ini...

Rabu, 10 Oktober 2018 - 14:59:47 WIB


Wartariau.com JAKARTA - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pekan ini kata Wakil Presiden Jusuf Kalla disebabkan beberapa faktor.

Mengutip Kontan, kurs rupiah di pasar spot melemah 0,11 persen ke Rp 15.235 per dollar AS dari harga penutupan kemarin pada Rp 15.218 per dollar AS.

"Ya rupiah memang melemah. Sekarang hari ini Rp 15.200 sekian per dollar AS. Itu tentu ada juga masalah dari luar, ada juga masalah dari dalam. Jadi dua-duanya," ujarnya di Kantor Wapres, Selasa (9/10/2018).

Wapres mengatakan, pemerintah sulit untuk mengambil langkah mendongkrak rupiah akibat tekanan dari luar negeri. Misalnya adanya perang dagang atau membaiknya ekonomi di AS.

Namun untuk faktor di dalam negeri, Kalla mengatakan pemerintah akan berupaya untuk mengurangi impor sehingga permintaan dollar bisa dikurangi.

Ia juga mengatakan, Bank Indonesia (BI) terus melakukan upaya untuk menstabilkan rupiah lewat gelontoran cadangan devisa ke pasar uang.

"Diintervensi BI. Kalau tidak bisa ya pemerintah seperti menghemat impor. Hanya itu," kata dia.

Sebelumnya, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira mengatakan ada sejumlah faktor yang membuat rupiah kian melemah.

Pertama, faktor global dipengaruhi oleh Yield Treasury 10 tahun atau surat utang AS yang telah mencapai 3,23 persen.

"Hal ini menandakan ekspektasi pelaku pasar terhadap ekonomi dunia dalam jangka panjang cenderung memburuk. Investor memburu instrumen utang AS sebagai flight to quality atau mencari aset yang aman," ujar Bhima dalam keterangan tertulis, Minggu (7/10/2018).

Selain itu, tingkat pengangguran AS mencapai 3,7 persen atau terendah dalam 18 tahun terakhir. Data tenaga kerja AS per September meningkat 134.000 orang.

Bhima mengatakan, kondisi ini mendorong lonjakan inflasi dalam jangka pendek di AS sehingga Fed rate diprediksi naik satu kali lagi tahun ini, empat kali di 2019, dan dua kali di 2020. Shock dari kenaikan Fed rate membuat investor menarik dana bertahap dari negara berkembang. (*)



Berita Terkait :