Gerebek Klinik Kampung Siluman,
Gerebek Klinik Kampung Siluman, Polisi Temukan Pasangan PNS Habis Aborsi

Selasa, 13 Agustus 2019 - 06:29:05 WIB


Wartariau.com Sebuah tempat bernama Klinik Aditama Medika II di Kampung Siluman, Desa Mangunjaya, Kecamatan Tambun Selatan digerebek jajaran Unit Reserse Kriminal Polsek Tambun lantaran dicurigai menjadi tempat praktik aborsi.

Dari penggerebekan ini, empat orang diamankan, yakni seorang ibu rumah tangga sekaligus pelaku aborsi berinisial HM (25), seorang PNS berinisial WS (40) yang juga teman pria HM, bidan MPN (25), dan pemilik klinik berinisial AF (50).

"Saat pengungkapkan, si ibu atau pelaku aborsi masih di lokasi sedang tahap pemulihan usai melakukan curret (penyedotan isi rahim)," kata Kapolsek Tambun, Kompol Rahmad Sujatmiko dilansir Kantor Berita RMOLJabar, Senin (12/8).

Polisi mengamankan gumpalan darah yang diduga adalah jaringan janin milik HM yang disimpan dalam sebuah kantong plastik, dan juga peralatan medis yang biasa digunakan untuk praktik aborsi, seperti alat USG, lampu USG, tiang infus, infus set, gunting, obat mules, satu dus obat bius, satu alat monoitor detak jantung, satu buah tabung, dan alat oksigen dan dua dus sarung tangan latex.

Diduga pelaku aborsi merasa malu jika melahirkan anak tersebut dan akan menjelekkan nama baik kedua belah pihak.

"Pelaku lakukan aborsi janinnya karena malu hasil hubungan gelap atau terlarang," ungkap Kompol Sujatmiko.

Menurut pengakuan pemilik klinik, praktik aborsi tersebut baru pertama kali dilakukannya. Akan tetapi, pihak kepolisian masih mendalami lebih lanjut hal tersebut.

"Kami masih dalami praktik aborsi yang telah dilakukan, termasuk izin klinik ini sedang dalami juga ke Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi," ujar dia.

Keempat pelaku kini telah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka disangkakan melanggar Pasal 83 Junto 64 Pasal UU 36/2014 tentang Tenaga Kesehatan dan atau Pasal 194 Jo Pasal 75 ayat (2) UU 36/2009 tentang Kesehatan dan atau Pasal 348 KUHP dan atau Pasal 354 KUHP dengan ancaman hukuman 10 tahun serta denda paling banyak Rp 1 miliar.

"Masing-masing tersangka dijerat dengan pasal yang berbeda, untuk pelaku aborsi diancam hukuman penjara 10 tahun, pemilik klinik dan tenaga medis diancam 5 tahun penjara," tandasnya. [rmol


Berita Terkait :