Risiko Bunuh Diri Dokter dan Wartawan Tinggi
Kerja Tak Kenal Waktu, Risiko Bunuh Diri Dokter dan Wartawan Tinggi

Minggu, 08 September 2019 - 22:59:26 WIB


Wartariau.com PEKANBARU - Kian
tahun, perilaku bunuh diri yang dipicu depresi semakin mengkhawatirkan.
Bahkan, menurut World Health Organization, Indonesia akan mengalami
ledakan depresi pada 2020. Jika dibiarkan, itu akan memicu tingginya
angka bunuh diri. Hal tersebut diungkapkan dr Brihastami Sawitri SpKJ
dan dr Nalini Muhdi SpKJ (K) dalam workshop Surabaya Suicide Update 2019
di FK Universitas Airlangga kemarin (6/9), seperti yang dilansir dari
jpnn.

Saat ini saja, rata-rata dalam sebulan Brihastami menerima
sepuluh pasien yang mengaku punya keinginan mengakhiri hidup. Jumlah itu
didapatkan dari tiga rumah sakit tempatnya berpraktik. ”Tiga sampai
lima di antaranya bahkan pernah melakukan percobaan bunuh diri,” kata
dia. Untuk laki-laki dan perempuan, hampir sama jumlahnya. Hanya,
perempuan masih lebih bisa diselamatkan ketimbang laki-laki.

Perempuan
yang berusaha bunuh diri memilih menyayat nadi atau minum racun dosis
kecil sehingga bisa diselamatkan. Tapi, kalau laki-laki, mereka melompat
dari gedung tinggi, menabrakkan diri, atau minum racun dalam dosis
besar. Kasus bunuh diri yang diketahui media massa hanya sebagian kecil.
”Jadi, ini seperti fenomena gunung es. Yang diketahui hanya di atas
permukaan, sedangkan yang di bawah permukaan masih banyak lagi,”
ujarnya.

Menurut Nalini, mayoritas penyintas bunuh diri di Kota
Surabaya merupakan usia remaja akhir dan usia dewasa awal, yakni 15–29
tahun. Pemicu terbesar adalah stressor di pekerjaan. Misalnya, deadline
yang ketat, atasan yang menekan, atau lingkungan kerja yang tidak
bersahabat. Ide bunuh diri tak serta-merta muncul. Mereka lebih dulu
depresi. ”Ada yang cepat depresi, ada pula yang lama depresinya,” lanjut
dia. Biasanya keinginan bunuh diri muncul setelah mereka tiga bulan
depresi tanpa mendapat perawatan memadai.

Depresi diawali dengan
adanya tekanan yang bisa menimbulkan burnout atau kelelahan kerja. Itu
terjadi bila seseorang bekerja terus-menerus tanpa ada keseimbangan
hidup. Padahal, setiap pekerja butuh libur dan istirahat cukup.
Pekerjaan yang berisiko membuat pekerjanya bunuh diri, menurut Nalini,
adalah dokter dan wartawan. ”dua pekerjaan itu memiliki waktu bekerja
yang tidak menentu. Mereka harus siap kapan saja ketika dibutuhkan,”
ungkapnya.

Selain itu, mereka yang bekerja di malam hari rentan
depresi dan bunuh diri. ”Orang yang bekerja malam hari rentan bunuh
diri. Sebab, kurang tidur di malam hari bisa membuat stres,” kata dia.

Nalini
mengatakan, bunuh diri dapat dicegah dengan cara merawat diri sendiri.
Seseorang perlu membiasakan untuk mengalihkan perhatian dari sakit
emosional seperti sedih, marah, merasa gagal, dan frustrasi. ”Perlu
dibiasakan berpikiran positif,” tuturnya. Seseorang juga harus terhubung
secara sosial agar dapat mencegah kesepian dan keputusasaan. Melibatkan
diri dalam komunitas kelompok atau kegiatan sosial yang positif menjadi
salah satu yang bisa dilakukan.

”Apabila memiliki tekanan
pikiran, jangan ragu untuk menceritakannya kepada orang lain,” kata
Nalini. Selain itu, meluangkan waktu untuk melakukan hal yang disenangi
dapat merelaksasi pikiran. ”Jika cara tersebut masih belum manjur, bisa
menghubungi psikiater atau psikolog,” terang dia.

PERINGATAN KECENDERUNGAN BUNUH DIRI

    1. Menunjukkan keputusasaan
    2. Kemarahan yang tak terkendali
    3. Bertindak impulsif atau terlibat dalam aktivitas berisiko
    4. Merasa terjebak seperti tidak ada jalan keluar
    5. Penyalahgunaan alkohol atau narkoba
    6. Menjadi lebih pendiam dan tertutup
    7. Menarik diri dari teman, keluarga, dan masyarakat
    8. Kecemasan, agitasi, tidak bisa tidur atau tidur sepanjang waktu
    9. Mood yang berubah secara dramatis *


Berita Terkait :