Ke Thailand saat Riau Berasap Parah
Ke Thailand saat Riau Berasap Parah, Gubri Diminta Tidak Gegabah

Rabu, 11 September 2019 - 20:37:11 WIB


Wartariau.com PEKANBARU -
Gubernur Riau, Syamsuar MSi tidak mengikuti Salat Istisqa yang
dilaksanakan tadi pagi di lapangan kantor Gubernur Riau, Rabu
(11/9/2019).

Gubri malah memilih hadir di acara Pertemuan Tingkat
Menteri Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangel (IMT-GT) ke-25 di
Krabi, Thailand.

Berdasarkan informasi, orang nomor satu di Riau
itu diminta untuk menjadi anggota delegasi RI pada rangkaian pertemuan
tingkat menteri itu.

Hal itu seperti disampaikan Penjabat (Pj)
Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Riau, Ahmad Syah Harrofie, Rabu
(11/9/2019). Dimana katanya, pertemuan yang dihadiri Syamsuar merupakan
pembahasan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya di Penang, Malaysia.

"Pertemuan
ini Pak Gubernur membahas khusus tentang pengoperasian RoRo Dumai -
Malaka, sebagai akses pertama antara Pulau (Provinsi Riau) dengan
Malaysia dan Thailand," kata Ahmad Syah.

Selain itu, Gubernur juga akan memperjuangkan harga sawit, karet, dan kelapa, serta mempromosikan potensi investasi di Riau.

Menanggapi hal itu, Ervan Ibsahrodan SH yang merupakan mantan Presma Universitas Lancang Kuning buka suara.

"Di
tengah sesak nafasnya masyarakat Riau akibat kabut asap karhutla, Gubri
masih sempat memikirkan dan mencari peluang strategis untuk ekonomi di
mata dunia," ujar calon mahasiswa yang akan menempuh distance Learning
Magister of Law  Di USW Inggris itu kepada MRNetwork, Rabu (11/9/2019)
sore.

Mahasiswa yang lulus Cumlaude di Unilak ini tak menampik
bahwa Syamsuar dikenal hebat dalam kelola wisata. "Pak Gubri melihat hal
itu, tapi tanpa melihat masyarakat Riau yang sudah banyak terkena
ISPA," terangnya.

Dia juga berharap agar Gubernur lebih mengutamakan kepentingan dan kesehatan masyarakat.

"Harap
saya, semoga Pak (Gubri) Syamsuar tidak gegabah dengan hal itu.
Masyarakat Riau menginginkan kabut asap hilang bukan mau mencari peluang
ekonomi wisata. Sedangkan di Riau masyarakat perlahan-lahan akan mati
kalau karhutla tidak cepat ditanggulangi," sebut Ervan.

"kabut
asap yang menyelimuti Provinsi Riau di beberapa bulan terakhir, mulai
membuat masyarakat resah. Selain membahayakan bagi kesehatan, akibat
bencana asap ini berdampak juga bagi dunia Pendidikan, anak sekolah jadi
terganggu proses belajar dan mengajarnya," pungkasnya.


Berita Terkait :