Warga Berburu Harta Karun Sriwijaya
Karhutla Padam, Warga Berburu Harta Karun Sriwijaya hingga Dapat Emas Puluhan Juta

selasa, 2019-10-01

Wartariau.com PALEMBANG - Warga Ogan
Komering Ilir di Sumatera Selatan geger atas penemuan harta karun bekas
peninggalan Kerajaan Sriwijaya di lokasi bekas kebakaran hutan dan lahan
(karhutla). Bahkan ada yang menemukan emas senilai puluhan juta.

"Istri
dan anak saya dapat emas sekitar 4-5 gram, kalau harga normal itu hanya
Rp 3 jutaan. Tapi karena motif dan batu merah, dihargai Rp 35 juta,"
kata warga, Denni, saat dimintai konfirmasi lewat telepon, Jumat
(4/10/2019).

Melihat emas itu punya motif dan nilai sejarah,
Denni pun tidak menjualnya. Ia memilih menyimpan harta karun tersebut
sebagai koleksi pribadi.

"Tidak saya jual, nanti kalau dapat lagi
emas polos, tidak bermotif, baru dijual. Kalau warga lain pasti dijual,
ada juga yang dapat emas dihargai Rp 60 juta," tuturnya, dikutip detik.

Pencarian
harta karun bekas Kerajaan Sriwijaya sendiri telah dilakukan pada
2014-2015. Saat itu lahan milik perusahaan PT Bumi Mekar Hijau (BMH)
kekeringan dan sempat terbakar.

Tidak lama setelah kebakaran,
warga menemukan emas di lokasi. Penemuan itu membuat geger warga hingga
pada akhirnya terus dilakukan pencarian.

Pencarian sendiri mulai
marak dilakukan saat musim kemarau. Sebab, kondisi air di lahan tersebut
mengering dan gambut mudah digali hingga kedalaman 1 meter.

Melihat
penemuan itu, tim cagar budaya Kabupaten OKI disebut sudah datang ke
lokasi. Tim meminta warga untuk dapat mendaftarkan setiap temuan mereka
di lokasi, terutama jika punya nilai sejarah.

"Pada 2018 lalu
lokasi itu didatangi sama tim cagar budaya OKI. Tim minta ke pencari
emas untuk mendaftarkan ke desa atau pihak kebudayaan," jelas Denni.

Kendala
di lapangan, banyak warga yang tetap menjual emas karena kebutuhan.
Namun untuk pendaftaran hingga saat ini belum diketahui berapa
jumlahnya.

Sementara kondisi di lapangan, tercatat hingga kini
masih ada puluhan pemburu harta karun. Bahkan mereka sampai ada yang
mendirikan tenda dan menginap hingga berbulan-bulan.

"Sekarang
itu ada 30-40 orang yang cari di lokasi, kalau ada yang dapat besar ya
pasti ramai lagi bisa sampai ratusan lah. Mereka nginap dan bangun
tenda," tutup Denni.  (*)


Berita Terkait :