THAILAND - Seorang hakim Thailand menembak dirinya sendiri di dada di depan pengadilan yang penuh sesak setelah membebaskan beberapa terdakwa pembunuhan. Dia juga mengutuk sistem peradilan kerajaan dalam sebuah pi">
 

Hakim Ini Tembak Dadanya di Pengadilan
Usai Bebaskan 5 Terdakwa Muslim dalam Kasus Pembunuhan, Hakim Ini Tembak Dadanya di Pengadilan

selasa, 2019-10-01

Wartariau.com THAILAND
- Seorang hakim Thailand menembak dirinya sendiri di dada di depan
pengadilan yang penuh sesak setelah membebaskan beberapa terdakwa
pembunuhan. Dia juga mengutuk sistem peradilan kerajaan dalam sebuah
pidato yang disiarkan di Facebook Live sebelum peristiwa terjadi.

Dilansir
dari Detik, Minggu (6/10/2019), para kritikus mengatakan pengadilan
Thailand sering kali menguntungkan orang kaya dan berkuasa dan kerap
memberikan hukuman cepat dan keras kepada orang biasa karena pelanggaran
ringan. Tetapi hampir tidak pernah ada hakim yang mengkritik sistem
tersebut.

Kanakorn
Pianchana, seorang hakim di pengadilan Yala di selatan Thailand yang
dilanda pemberontakan, memberikan vonis untuk lima tersangka Muslim
dalam kasus pembunuhan pada Jumat sore waktu setempat. Dia membebaskan
kelompok itu, dan menyampaikan permohonan ruang sidang untuk sistem
peradilan yang lebih bersih, sebelum mengeluarkan pistol dan menembak
dirinya sendiri di dada.

"Anda
perlu bukti yang jelas dan kredibel untuk menghukum seseorang. Jadi,
jika Anda tidak yakin, jangan menghukum mereka," katanya berbicara
kepada pengadilan dan menyiarkan kata-katanya di teleponnya di Facebook
secara langsung.

"Saya
tidak mengatakan bahwa kelima terdakwa tidak melakukan kejahatan,
mereka mungkin melakukannya. Tetapi proses pengadilan harus transparan
dan kredibel, menghukum orang yang salah membuat mereka menjadi kambing
hitam," jelasnya.

Siaran
di Facebook kemudian dipotong, tetapi saksi mengatakan Kanakorn
mengucapkan sumpah hukum di depan potret mantan raja Thailand, sebelum
menembak dirinya sendiri di dada.

"Dia sedang dirawat oleh para dokter dan sudah keluar dari bahaya," kata Juru Bicara Kantor Kehakiman, Suriyan Hongvilai.

"Dia
menembak dirinya sendiri karena 'stres pribadi'. Tetapi penyebab di
balik stres itu tidak jelas dan akan diselidiki," sambungnya.

Dia
juga menyebut tidak ada hakim Thailand yang pernah melanggar protokol
dengan membuat pernyataan serupa tentang sistem peradilan yang lebih
luas. Seorang pengacara yang membela dengan para terdakwa mengatakan
hakim Kanakorn telah memutuskan bahwa bukti jaksa tidak cukup untuk
menghukum.

"Saat
ini kelima orang itu masih ditahan dan sedang menunggu untuk melihat
apakah jaksa penuntut mengajukan banding atas pembebasan mereka," ucap
Abdulloh Hayee-abu, dari Pusat Pengacara Muslim di Yala mengatakan
kepada AFP.

Lebih
dari 7.000 orang tewas dalam 15 tahun konflik di wilayah selatan
mayoritas Muslim-Melayu. Ribuan tersangka telah dipenjara karena
tindakan terkait dengan pemberontakan, banyak di bawah undang-undang
darurat diberlakukan di wilayah itu.

Kelompok-kelompok
advokasi di Thailand selatan telah lama menuduh pasukan keamanan
melakukan tuduhan palsu terhadap tersangka yang berasal dari komunitas
Muslim dan menggunakan undang-undang darurat untuk mendorong kasus-kasus
melalui pengadilan. (*)


Berita Terkait :