Wartariau.com BAGANSIAPIAPI - Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Rohil, Ir Sri Rahayu mengaku terkejut dan kecewa atas pu">

Pemerkosa dan Pembunuh Anak Secara Sadis Divonis 15 Tahun,
Pemerkosa dan Pembunuh Anak Secara Sadis Divonis 15 Tahun, DP2KBP3A Rohil Kecewa

selasa, 2019-10-01

Wartariau.com .BAGANSIAPIAPI -
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Rohil, Ir Sri
Rahayu mengaku terkejut dan kecewa atas putusan Majelis Hakim Pengadilan
Negeri (PN) Rohil yang hanya menghukum ringan pelaku pemerkosa
sekaligus pembunuh sadis anak di bawah umur.

Sri Rahayu
menyebutkan bahwa perbuatan pelaku sangat tidak beradap dan sadis. Oleh
sebab itu menurutnya, terdakwa Hendri Limbong ini harus dihukum berat
minimal 20 tahun penjara.

"Saya pribadi ya sangat kecewa atas
putusan itu. Tapi kita tidak ada hak untuk membantah atau somasi.
Harusnya pelaku minimal dihukum penjara 20 tahun. Atau maksimal seumur
hidup," kata Sri Rahayu Senin (7/10/2019).

Kasus biadab dan sadis
ini sebut Sri Rahayu, telah menjadi perhatian semua pihak. Bahkan juga
publik yang turut mengutuk perbuatan pelaku yang sangat kejam.

"Sudahlah memperkosa anak di bawah umur, dia membunuh lagi bahkan dengan sadisnya membelah perut korban," ucapnya.

Menurut
Sri, putusan ini sangat tidak berkeadilan bagi keluarga korban. Secara
psikis hal ini sangat berat. Masa depan anak hancur dan mereka
kehilangan anak. Pertimbangan perdamaian memang dapat mengurangi
hukuman, kendati dimana keadilan terhadap korban dan keluarga.

"Menurut
saya, hal ini sangat tidak adil. Untuk kasus perkosaan atau pencabulan
anak di bawah umur saja maksimal hukumannya 15 tahun penjara. Bagaimana
pula pelaku memperkosa lalu membunuh secara sadis. Bahkan dengan
membelah perut korban hingga usus terburai juga divonis 15 tahun,"
ungkapnya.

Menyikapi hal ini, DP2KBP3A akan mendukung Jaksa
Penuntut Umum untuk melakukan banding. Tentunya dukungan itu akan
dilakukan dengan menyurati JPU dan meminta lembaga hukum tertinggi agar
memperhatikan kasus ini agar ke depannya, kata Sri, tidak ada lagi
kejadian serupa.

Sebelumnya, terdakwa kasus pembunuhuhan siswi
SD berusia 11 tahun Hendri Limbong hanya di vonis 15 tahun penjara oleh
Pengadilan Negeri (PN) pada Selasa (1/10).

Padahal, Jaksa
Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Rohil dalam kasus tersebut
menuntut terdakwa dengan tiga pasal berlapis yakni pasal 338,339 serta
pasal 440 dengan tuntutan seumur hidup.

Dengan putusan PN
tersebut, Kejari Rohil Gaos Wicaksono melalui Kasi Intel Farkhan Junaedi
menyatakan banding atas putusan PN itu.

"Kita menghormati
putusan majelis hakim PN Rohil, namun berdasarkan fakta-fakta
persidangan dan apa yang telah terdakwa lakukan kepada korban sangatlah
keji. Kami menganggap putusan ini belum memenuhi rasa keadilan, oleh
karena itu kita akan melakukan upaya hukum," kata Farkhan Junaedi.

Farkhan menerangkan, putusan yang diberikan PN dengan pertimbangan adanya perdamaian antara keluarga korban dengan terdakwa.

Namun
lanjutnya, dalam persidangan sebelumnya, nenek korban mengakui ada
perdamaian akan tetapi nenek korban menyatakan nyawa dibayar dengan
nyawa.

"Akan tetapi saat persidangan terakhir saat akan
pembacaan vonis, penasehat hukum kembali menghadirkan nenek korban
sebagai saksi perdamaian dan malah mengatakan sudah ada perdamaian dan
telah mengikhlaskan, ini ada apa, kenapa pas persidangan terakhir,"
ujarnya.

Farkhan juga menambahkan, terdakwa Hendri Limbong juga
memiliki perkara berbeda dengan kasus pembunuhan yang berhasil diungkap
Polres Rohil.

Terdakwa Hendri Limbong sang pembunuh sadis
terlebih dahulu memperkosa, kemudian membunuh dan membelah perut korban
hingga ususnya terburai menggunakan pisau carter diamankan Polres Rohil
pada 25 oktober 2018 lalu.

Kasus perkosaan lalu membunuh secara
sadis seorang siswi SD kelas lima tersebut terjadi di kebun sawit Dusun
Rejosari RT 01 RW 01 Desa Tanjung Medan Utara, Kecamatan Tanjung Medan,
Kabupaten Rokan Hilir.


Berita Terkait :